SOSOK ANAS ZAINI: DARI LAMPU TOGOK MENUJU PENGABDIAN UNTUK NAGARI SIKUCUA UTARA Sikucua Utara
Hendri pagai
Penulis Berita
20 Apr 2026
536 views
SOSOK ANAS ZAINI: DARI LAMPU TOGOK MENUJU PENGABDIAN UNTUK NAGARI SIKUCUA UTARA
Sikucua Utara — Di tengah dinamika pembangunan nagari, muncul satu nama yang mulai menjadi perbincangan hangat masyarakat: Anas Zaini. Sosok sederhana yang kini menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Wali Nagari Sikucua Utara ini bukanlah figur yang lahir dari kemewahan, melainkan dari tempaan kehidupan yang keras dan penuh perjuangan.
Anas Zaini lahir pada 1 April 1970 di Nagari Sikucua, di sebuah rumah gubuk di daerah yang kala itu masih terisolir. Masa kecilnya jauh dari kata mudah. Ketika malam tiba, ia belajar hanya ditemani cahaya lampu togok yang redup. Namun dari keterbatasan itulah tumbuh tekad kuat untuk mengubah nasib.

Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Anas merasakan betul pahitnya keterbatasan ekonomi. Sang abang hanya mampu menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar, sementara adiknya terhenti di bangku SMP. Kondisi keluarga memaksa mereka untuk mengalah pada keadaan. Namun tidak bagi Anas. Ia memilih berjuang lebih keras.
Sejak duduk di bangku STM, Anas sudah bekerja sebagai kuli—mulai dari membuka kelapa di ladang orang hingga bekerja kasar lainnya—demi membantu orang tua dan membiayai sekolahnya. Peran sang ayah, seorang petani yang juga memiliki keterampilan pertukangan, menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter Anas. Bersama ayahnya, ia merantau ke Batam, bekerja sebagai kuli bangunan dengan hanya bermodalkan ijazah dan tekad untuk berubah.
Pendidikan formalnya ditempuh dari SD Negeri Sikucua, SMP Negeri Kampung Dalam, hingga STM Negeri Pariaman jurusan Teknik Mesin. Meski harus bekerja, ia tidak berhenti belajar. Setelah mapan, ia melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Teknik Industri di Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam.
Karier profesional Anas dimulai pada November 1993 saat ia bergabung dengan PLN. Dari staf pembangkit, ia terus naik melalui berbagai posisi strategis: Supervisor pembangkit, perencanaan korporat, hingga menjadi pejabat dan manajer pengadaan barang dan jasa di lingkungan PLN Sumatera Barat. Hingga tahun 2026, ia masih aktif dalam perencanaan korporat PLN UID Sumbar.
Namun perjalanan Anas tidak hanya soal karier. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi. Ia pernah menjadi pengurus masjid dan Ketua Remaja Masjid Al Fitrah Batam, pengurus RT, pengurus kenagarian di perantauan, hingga Ketua Koperasi dan Sekretaris Serikat Pekerja PLN di Padang. Jiwa kepemimpinannya juga terlihat dari perannya sebagai Ketua Alumni STM dan Ketua Pengurus Surau.
Di bidang olahraga, ia aktif sebagai pemain dan pengurus bulu tangkis serta pernah terlibat dalam kegiatan voli KPPS pada era 1990-an. Semua ini menunjukkan bahwa Anas adalah sosok yang tumbuh dengan semangat kebersamaan dan pengabdian.
Kini, dengan pengalaman panjang dan latar belakang kehidupan yang kuat, Anas Zaini membawa visi untuk membangun Nagari Sikucua Utara yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera. Visi dan misinya menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, pembangunan infrastruktur, serta memperkuat nilai-nilai keagamaan dan sosial.
Baginya, pembangunan bukan sekadar fisik, tetapi juga membangun manusia dan harapan. Dari perjalanan hidupnya, Anas percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tekad kecil yang tidak pernah padam.
Dengan semangat perjuangan yang telah ditempa sejak kecil, Anas Zaini hadir bukan hanya sebagai calon pemimpin, tetapi sebagai representasi harapan masyarakat—bahwa dari keterbatasan, lahir kekuatan untuk
membawa perubahan
*Catatan Kawan: Sosok Anas Zaini di Mata Sahabatnya*
Di mata rekan-rekan dekatnya, Anas Zaini bukan sekadar sosok pekerja keras, tetapi juga pribadi yang hangat dan mudah diterima di berbagai kalangan. Seperti yang dituturkan oleh Hendri Pagai, seorang jurnalis Padang TV, Anas dikenal memegang teguh pepatah Minangkabau “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Prinsip itu tercermin dari caranya bergaul—ia mampu menempatkan diri, menghargai orang lain, dan membangun kedekatan tanpa sekat.
Dalam keseharian, Anas adalah sosok yang sederhana dan penuh kebersamaan. Di sela kesibukannya, ia kerap meluangkan waktu untuk hobi yang membumi, seperti memancing ikan di sungai atau berburu burung ruak-ruak. Aktivitas itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan. “Kami masak bersama, bercanda, dan tertawa lepas,” kenang Hendri, menggambarkan sisi humanis Anas yang dekat dengan siapa saja.
Tak hanya itu, Anas juga dikenal sebagai pribadi yang peduli dan rendah hati. Ia mudah bergaul tanpa memandang latar belakang, menjadikannya sosok yang disegani sekaligus disayangi. Bagi kawan-kawannya, Anas adalah figur multi talenta—ia bisa bernyanyi dengan lagu-lagu dangdut kesukaannya, namun di saat yang sama mampu tampil sebagai pemimpin dan imam dalam salat di lingkungan tempat tinggalnya di Komplek Sparco Pratama, Anak Air, Kota Padang.
Lebih dari sekadar sahabat, bagi sebagian orang, Anas bahkan terasa seperti sosok orang tua—tempat berbagi cerita dan nasihat. Kedewasaan sikap dan kepeduliannya menjadi alasan mengapa ia dihormati oleh lingkungan sekitarnya.
Di balik semua itu, ada satu hal yang paling menonjol: kecintaannya kepada keluarga, khususnya orang tua. Di tengah kesibukan, Anas hampir setiap minggu menyempatkan pulang ke kampung halamannya di Sikucua Utara untuk menjenguk ibundanya yang kini tengah mengalami sakit karena faktor usia. Baginya, pengabdian kepada orang tua adalah panggilan hati yang tak bisa ditunda.
Gambaran dari para sahabat ini melengkapi sosok Anas Zaini—bukan hanya sebagai calon pemimpin, tetapi sebagai manusia yang utuh: pekerja keras, bersahaja, penuh empati, dan selalu mengutamakan nilai-nilai kekeluargaan.
*Catatan Seorang Kawan/Anak : Hendri Pagai*